http://cursor.com/images/24a.gif

Jumat, 22 November 2013

Monolog Singkat Si Pohon Kota

Sebelum kalian membaca monolog singkat saya, ingat-ingat kalau saya ini tidak lebih dari sebatang pohon yang sering kalian lihat tapi selalu kalian abaikan. Malahan, kadang sering kalian pakai untuk buang air kecil sembarangan. Jadi, jangan harap saya akan banyak bicara disini. Saya disini cuma mau sharing tentang kekesalan saya saja, kok. Terutama akhir-akhir ini, pas lagi jaman kampanye.

Yah, saya tahu, sih, emang pemilu itu penting. Apalagi pilpres. Kalau enggak ada anggota DPR sama presiden, negara ini siapa yang mimpin, ya? Kalo enggak ada mereka, enggak ada juga yang bikin peraturan yang katanya sih buat melindungi saya dan teman-teman saya sesama pohon. Saya tahu, sih, pasti di antara mereka ada yang hatinya benar-benar bersih dan sungguh-sungguh berniat bikin negara tempat saya tumbuh ini maju, tapi kok yang lain-lainnya banyak yang jahat sama saya, ya?

Gimana enggak jahat, wong mau kampanye saja, mereka selalu pasang spanduk dimana-mana sampe bikin rusak pemandangan. Mending kalau cuma ngerusak pemandangan, badan saya pake dipaku segala! Duh, kalau bisa teriak sih, saya teriak, kalau bisa saya lari saja dari negara ini. Tapi sayangnya, sebagai tumbuhan gerak saya terbatas dan enggak bisa pindah tempat, jadi ya saya pasrah saja lah.

Hm, walaupun cuma sebatang pohon, gini-gini saya sering baca spanduk-spanduk milik caleg-caleg dan capres-capres itu, lho. Kalau dilihat dari muka, penampilan, dan janji-janji mereka, kayaknya meyakinkan, sih. Pas pemilu yang kemarin-kemarin, saya sih senang-senang saja, saya berdoa pada Tuhan, moga-moga janji mereka semua ditepati, jadi rasa perih yang saya rasakan akibat dipaku demi spanduk-spanduk kampanye itu terbayar dengan melihat kebahagiaan rakyat di negara yang saya tempati ini.

Namun, apa daya ternyata harapan saya ini tidak sepenuhnya terwujud. Kadang, saya sering dengar orang marah-marah di jalan sambil bawa-bawa foto presiden yang dicoret-coret lah, bendera Merah Putih lah, ban yang dibakar lah, sambil neriakin kekecewaan mereka terhadap pemerintah dan juga para anggota DPR. Ada yang korup lah, penggelapan dana lah, dapet gratifikasi lah, dan yang paling bikin saya sedih, mereka ternyata hanya mengejar tahta sebagai penguasa negara ini. Belum lagi presiden yang kurang tegas menanggapi keresahan rakyatnya. Wah, bertambahlah kegalauan saya sekarang.

Dan enggak cuma itu yang bikin saya sedih bukan main. Setiap hari, terutama pada siang hari yang terik atau malam yang dingin, saya sering dijadikan tempat berlindung oleh orang-orang semacam, yah... kalian tahu sendiri, kan? Pengemis, pengamen, anak-anak jalanan yang entah dimana keluarganya, orang-orang tua yang kehilangan anaknya, semua berkumpul jadi satu. Terkadang, saya sering menyampaikan kegalauan saya ini pada sesama pohon yang juga dijadikan tempat berteduh barang sejenak oleh orang-orang ini. Sama seperti saya, mereka hanya bisa pasrah. Mengutuk penguasa juga tak ada gunanya, walaupun ini bukan negara berbentuk kerajaan, tapi sama saja, mereka pasti mengalahkan kami yang hanya pohon yang berpindah tempat saja tidak bisa. Hm...

Jangan kira saya ini hanya diam saja, tidak melihat, mendengar, dan merasakan. Saya juga bisa merasakan tetesan air mata seorang ibu yang menangis karena anaknya tidak bisa sekolah seperti anak-anak lain. Belum lagi kebutuhan gizinya yang tidak tercukupi, karena asupan makanan yang kurang memadai.

"Tapi kan udah ada dana BOS sama bantuan sembako dari pemerintah?" Ah, basi. Semuanya dah dikorup, jadi enggak semuanya dapet, deh. Buktinya, masih ada anak yang enggak bisa sekolah dan dapet makanan 4 sehat 5 sempurna kayak anaknya ibu itu. Kalau bisa ikut menangis, saya mau ikut menangis sama ibu itu, kalau bisa saya pengin nenangin beliau, kalau suatu saat bakal ada pemimpin yang bisa ngasih pendidikan dan sandang pangan papan yang cukup untuk mereka semua. Amin.

Yah, saya tahu, sih, sebagai pohon, tugas saya disini cuma ngolah karbon dioksida dari udara yang ada di sekitar saya dan nyetor oksigen buat orang-orang yang ada di sekitar saya, tapi saya pengin, pengorbanan saya buat enggak teriak saat dipaku demi spanduk-spanduk calon-calon pemimpin itu tidak sia-sia, dan semoga rakyat Indonesia cukup pintar untuk memilih, mana calon pemimpin yang benar-benar bisa mengayomi mereka, memberi keamanan, kenyamanan, dan ketenteraman bagi semuanya, dan juga bisa memanfaatkan namun juga melindungi alam, termasuk saya dan teman-teman saya, hahahaha.

Duh, kok saya jadi sok bijak sama pinter gini, ya, padahal saya kan cuma pohon...

Ya udah, sampe sini aja deh saya ngocehnya, lain kali deh saya lanjutin, itupun kalo kalian masih tahan sama ocehan saya ya, hahaha....

Sekian monolog singkat saya, moga-moga bermanfaat, deh, buat semua. Salam buat para pemimpin yang nanti terpilih. Kalau bisa, setiap mau kerja baca lagi monolog saya ini, biar enggak lupa sama apa yang diharapin rakyat buat kalian laksanakan, ya. Hahaha...

Salam pohon, 

Salah satu pohon yang sering Anda lihat di jalan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar